Sampul buku kumpulan puisi Keranda Emas


Cara Untuk Mati

Aku selalu berhayal, tentang bagaimana caraku mati. Dicekik, ditikam, terjatuh, tenggelam, terbakar, diinjak, diracun, ataupun dilempar dari ketinggian.
Pun semuanya tak sanggup mengurangi derita dunia...
Kulanjutkan saja ceritaku kalau begitu.

Bila aku mati tercekik, pastinya terlebih dulu aku sempat mengumpat seribu cacian pada seseorang yang bermata kecil, berdahi sempit, bertubuh sedang, rambutnya tak begitu ikal, dan dengan gayanya yang seperti orang kebanyakan. Maka mulailah ia mengambil ancang-ancang menaruh kedua tangannya tepat di batang leherku hingga nafasku sesak dan wajahku memucat, maka matilah aku saat itu juga dengan keadaan paru-paru dan vena yang kekurangan oksigen menuju jantung.

Bila aku mati tenggelam, maka pikirkan bagaimana cara menaruh pemberat pada kakiku agar tubuhku sukses mendarat di kedalaman yang kau inginkan, hingga gelembung nafasku yang terakhir pun tak dapat kau lihat di permukaan nantinya. Tentu itu adalah satuan kedalaman yang belum pernah kau pikirkan sekalipun, maka berpikirlah mulai sekarang.

Mati diracun adalah salah satu cara mati yang elegan, menurutku. Mengobrollah denganku cukup lama, dengan segera aku akan terlena, karena kata-kata bagiku adalah permata, lalu kau boleh berbangga ria menganggap dirimu malaikat pencabut nyawa. Racun yang kau taruh di cawanku pun masih sempat kukira obat sakit gigi. Tegukan terakhirnya mampu membuatku nampak mati dengan elegan, mulut berbusa dan mati mendelik, dan tubuh mengejang. Aku mati dengan elegan.

Bila kau kenal denganku, ajaklah aku ke sebuah tebing dengan ketinggian yang menakutkan, tak mungkin kutolak tawaranmu, karena tebing dan dirimu telah kuanggap sama, sama curamnya. Aku akan berpura-pura tidak tahu, memunggungimu dan tak berusaha melihatmu dengan mata belakangku.

Aku yang mulai menghitung, kau dorong saja tubuhku yang kecil dengan satu jarimu, denga sukses aku akan meluncur dingin sejenak, lalu mendentam di bumi, atau mengguling di bebatuan. Tubuhku akhirnya tak berbentuk dan akhirnya aku tahu kau akan menyesal, ternyata ini adalah cara mati yang buruk...
Benar-benar buruk.

Ida Ayu Dewi Arini
Keranda Emas: Antologi Puisi 21 Penulis Bali




IDA AYU DEWI ARINI adalah penulis puisi dan naskah teater yang lahir di Palangkaraya, 5 Desember 1984. Saat ini tengah menyelesaikan kuliahnya di Program Desain Komunikasi Visual ISI Denpasar.
Pernah meraih Sepuluh Besar lomba Cipta Puisi SLTPN 1 Denpasar (1997), Juara I Lomba Cipta Puisi Puputan Margarana (2004), dan Juara III Cipta Puisi Teater Angin (2006).
Aktif menulis puisi dan mempublikasikan di media massa hingga kini.

Email: dayuarab@yahoo.co.id

Puisi-puisinya yang masuk dalam Keranda Emas, Antologi 21 Penulis Bali yaitu:
- Engkaukah Itu?
- Alkisah 
- Ajarkan Aku Menggeliat
- Cara Untuk Mati
- Mimikri

0 comments:

Post a Comment